Air Muka | Renungan Harian


Ayat bacaan: Amsal 15:13

"Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat."

Air muka  seperti apa yang mendominasi wajah kita saat ini? Apakah senyum lebih banyak, atau cemberut atau muka dingin yang justru lebih sering muncul? Satu hal yang pasti, kerap kali air muka kita bisa mempengaruhi suasana di tengah-tengah lingkungan di mana kita berada. Ketika kita hadir kita bisa membuat suasana menjadi ceria, atau justru sebaliknya, kehadiran kita seolah membawa awan kelabu dan langsung membuat suasana menjadi suram dan muram. Apakah orang lain menjadi bersemangat dan gembira lewat kehadiran kita, atau malah langsung membuat orang menjadi malas serta kehilangan gairah? Sadar atau tidak, air muka yang kita tunjukkan kepada lingkungan sekitar kita akan sangat berpengaruh terhadap suasana. Ramahkah, bersahabatkah, mudah tersenyum kah, atau angkuh, kaku dan tidak menunjukkan sikap bersahabat, semua itu bisa tergambar dari raut muka kita. Apakah bibir kita melengkung ke atas  atau melengkung ke bawah, apa yang terlihat itu bisa menentukan situasi di sekitar kita. Ada banyak anak yang ketakutan melihat ayahnya karena setiap ayahnya pulang raut mukanya tidak pernah senyum dan selalu terlihat seperti marah. Mendengar suara mobil saja anak-anak sudah  berlari ke kamarnya masing-masing dan segera pura-pura tidur karena ketakutan. Di kantor pun demikian. Apa yang anda rasa jika pimpinan anda memiliki wajah yang ketus dan dingin? Bandingkan dengan pimpinan yang ramah, suka tersenyum dan mau menyapa bawahannya. Ini gambaran sederhana mengenai pengaruh air muka terhadap lingkungan sekitar. Sesuatu yang sepele, tapi seringkali tidak kita sadari dampaknya terhadap orang-orang disekitar kita.

Hari ini saya hadirkan sebuah pertanyaan penting, apakah Tuhan peduli dengan air muka yang kita tampilkan setiap hari? Jawabannya ya. Tuhan juga sangat peduli. Lihatlah sebuah contoh di awal-awal kitab Kejadian ketika Kain mulai merasa cemburu terhadap saudara kandungnya Habel. (Kejadian 4). Ketika korban persembahan Habel diterima dan korban persembahan Kain ditolak Tuhan, hatinya dikatakan menjadi sangat panas, dan itu mengakibatkan mukanya menjadi muram. (Kejadian 4:5). Lalu lihatlah tanggapan Tuhan setelahnya. "Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." (ay 6-7). Tuhan sudah mengingatkan jelas bahwa air muka seharusnya berseri if we do well, tetapi sebaliknya jika tidak, maka dosa pun akan mengintip di depan pintu, menunggu untuk masuk, menyerang dan menghancurkan kita. Dan lihatlah ayat 6 di atas. Disana Tuhan menyatakan langsung bahwa ada keterkaitan antara suasana hati dengan air muka. Hati dikatakan sebagai sumber kehidupan, karenanya kita harus menjaga hati jika kita tidak mau kehilangan sukacita dan kemudian kehilangan senyum dan kegembiraan dalam hidup kita. (Amsal 4:23). Itu akan terlihat jelas dari raut atau air muka kita. Akan halnya Kain, kita tahu apa yang ia lakukan selanjutnya. Sebuah kejahatan keji pembunuhan pun kemudian terjadi, dan itu dilakukan oleh saudara kandung dari korban sendiri. Tuhan padahal sudah mengingatkan sebelum itu terjadi. Hati tidak terjaga akan mengakibatkan air muka menjadi muram, lalu dibalik itu dosa pun akan mengintip menanti saat yang tepat untuk menusuk masuk dan menghancurkan kita. Kain tidak mengindahkan itu dan lihatlah akibatnya.

Dalam salah satu bagian kitab Amsal dikatakan: "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Adalah penting bagi kita untuk memiliki muka yang berseri-seri, dan itu semua secara tegas dikatakan berasal dari hati yang gembira. Dari hatilah sebenarnya kehidupan kita terpancar, salah satunya lewat air muka kita. Karenanya kita diminta untuk senantiasa mengawal hati dengan serius. Dari apa yang terjadi pada Kain di atas kita bisa melihat dengan jelas korelasi antara hati yang gembira dan air muka serta akibat yang ditimbulkan setelahnya. Tuhan mengingatkan bahwa raut wajah yang muram akan timbul ketika tidak ada sukacita dalam diri kita, ketika tidak ada kasih Tuhan berkuasa atas kita. Dan ketika itu terjadi, ada dosa yang sudah mengintip di depan pintu dan tengah bersiap-siap untuk menerkam kita. Jadi ada hubungan yang kuat antara apa yang ada dalam hati dengan apa yang terpancar keluar lewat air muka kita.

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa memiliki air muka yang menyenangkan? Caranya tidak lain adalah dengan terus menjaga kondisi hati kita agar terus berisi sukacita. Hati yang dipenuhi sukacita akan memancarkan sinar cerah di wajah kita yang bisa membahagiakan orang lain dan diri sendiri. Tidak heran bahwa Tuhan sendiri pun memerintahkan kita untuk setiap saat terus bersukacita dalam keadaan apapun. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Sukacita sungguh membawa banyak manfaat. Selain membawa pengaruh kepada orang-orang disekitar kita, hati yang gembira penuh sukacita juga akan membuat kita lebih luwes dalam pergaulan bahkan menyehatkan kita. Kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam apabila belum apa-apa orang sudah bereaksi negatif dan anti pati terhadap kehadiran kita. Dalam hal kesehatan pun itu berhubungan. Firman Tuhan lewat hikmat Salomo sudah mengatakan: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bayangkan ada berapa banyak penyakit yang mengantri untuk merobohkan kita apabila kita tidak memiliki sukacita dalam hidup kita.

Tuhan senang melihat orang-orang yang selalu gembira penuh sukacita dan tidak suka kepada orang yang air mukanya muram. Lihatlah bagaimana kesal dan kecewanya Tuhan melihat bangsa Israel yang terus saja bersungut-sungut meski mereka terus mendapat curahan berkat dan penyertaan Tuhan. Haruskah kita mencontoh perilaku mereka dan terus mengecewakan Tuhan? Apakah baik jika kita terus menjadi orang yang cepat marah, cepat tersinggung, egois, tidak mau mengerti orang lain dan memasang wajah kaku tak bersahabat kepada orang lain? Tuhan sendiri tidak menginginkan hal seperti itu untuk dilakukan anak-anakNya. Kasih Tuhan yang tercurah setiap hari kepada anak-anakNya seharusnya mendatangkan sukacita, dan selanjutnya terpancar lewat raut  muka, sikap dan perilaku yang bersinar terang, yang seharusnya dapat dengan mudah dilihat oleh dunia.  Jadilah orang yang ramah, murah senyum, punya sikap bersahabat. Jangan pernah biarkan kesulitan-kesulitan dan tekanan dalam hidup merampas sukacita dalam diri kita dan menghilangkan senyum dari wajah kita. Untuk itu, selalu jaga hati kita supaya tetap bersukacita. Air muka apa yang ada hari ini pada wajah kita akan sangat tergantung dari apa yang tengah mengisi hati kita. Oleh karena itu pastikanlah wajah kita tetap penuh senyum dan gembira, dan alirkanlah kegembiraan itu untuk menyentuh orang-orang disekitar kita.

Air muka kita tergantung dari suasana hati

Air Muka | Renungan Harian Air Muka | Renungan Harian Reviewed by Alfa on Oktober 28, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar

Tinggalkan pesan, kritik ataupun saran agar blog ini bisa menjadi lebih baik lagi dan bisa memberkati lebih banyak orang.
**Salam Kasih untuk kamu. TUHAN YESUS MEMBERKATI

Bagikan kepada saudara-saudara kita yang lain dan mari kita sama-sama melayani.